Kemampuan seorang lulusan doktor tidak hanya tercermin dari penguasaan bidang keilmuan. Berpikir kritis, bekerja bersama orang lain, mengambil keputusan, beradaptasi, hingga menjaga etika dan integritas juga menjadi bagian penting dari kompetensi yang dibawa lulusan setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.
Gambaran tersebut terlihat dalam Tracer Study Tahun Akademik 2025/2026 yang dilaksanakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada melalui Office of Cooperation, International Affairs, and Alumni Faculty (OCIA). Sebanyak 11 alumni Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM menjadi responden dalam tracer study ini.
Salah satu aspek yang diukur dalam instrumen tracer study adalah penilaian alumni terhadap tingkat kompetensi yang telah mereka kuasai ketika lulus sebagai doktor. Penilaian dilakukan menggunakan skala 1–5, mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi.
Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai berbagai kompetensi yang dimiliki berada pada kategori tinggi. Temuan ini memberikan gambaran bahwa pengalaman pendidikan doktoral tidak hanya berkaitan dengan pendalaman bidang keilmuan, tetapi juga dengan pengembangan cara berpikir dan berbagai keterampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks profesional.
Berpikir Lintas Disiplin Menjadi Salah Satu Kompetensi yang Paling Menonjol
Salah satu temuan paling menonjol adalah kemampuan berpikir lintas disiplin ilmu. Sebanyak 81,8% responden menilai kompetensi ini berada pada kategori tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa perjalanan studi doktoral tidak selalu berjalan dalam batas-batas satu bidang ilmu saja. Dalam proses penelitian, mahasiswa doktoral berhadapan dengan berbagai persoalan yang sering kali membutuhkan sudut pandang berbeda. Kemampuan melihat sebuah isu dari lebih dari satu perspektif menjadi salah satu bekal penting, terutama ketika persoalan di masa sekarang semakin kompleks dan saling berkaitan.
Kemampuan tersebut juga berjalan beriringan dengan penguasaan keahlian berdasarkan bidang ilmu, yang dinilai tinggi oleh 63,6% responden. Sementara itu, pengetahuan umum juga memperoleh penilaian tinggi dari 54,6% responden.
Dengan kata lain, hasil tracer study ini memperlihatkan dua sisi kompetensi yang saling melengkapi: memiliki kedalaman dalam bidang keilmuan sekaligus kemampuan untuk melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas.
Adaptif dan Mampu Mengelola Diri
Selain kemampuan akademik dan berpikir, sejumlah kompetensi personal juga memperoleh penilaian tinggi dari para alumni. Sebanyak 72,7% responden menilai kemampuan adaptasi mereka berada pada kategori tinggi.
Kemampuan untuk beradaptasi menjadi relevan karena lingkungan kerja, tuntutan profesi, teknologi, hingga persoalan yang dihadapi masyarakat terus mengalami perubahan. Kompetensi lain yang juga memperoleh penilaian tinggi dari 63,6% responden adalah: manajemen waktu; negosiasi; bekerja secara mandiri; bekerja dalam tim; kepemimpinan; serta kemampuan pengembangan diri.
Menariknya, kemampuan bekerja mandiri dan bekerja dalam tim sama-sama memperoleh penilaian tinggi dari 63,6% responden. Dua kompetensi ini mungkin terlihat berbeda, tetapi keduanya justru saling melengkapi. Seorang doktor diharapkan mampu mengembangkan pemikiran dan pekerjaannya secara mandiri, sekaligus tetap dapat berkolaborasi dengan orang lain ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan berbagai perspektif dan keahlian.
Etika dan Integritas: Satu-satunya Kompetensi yang Mayoritas Dinilai “Sangat Tinggi”
Jika sebagian besar kompetensi memperoleh penilaian mayoritas pada kategori tinggi, terdapat satu temuan yang berbeda —sebanyak 54,6% responden menilai kompetensi etika dan integritas mereka berada pada kategori sangat tinggi.
Temuan ini menjadi salah satu sorotan penting dalam hasil tracer study. Dalam dunia profesional maupun akademik, kompetensi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan atau menghasilkan keputusan. Cara seseorang menjalankan kompetensinya juga memiliki arti yang sama pentingnya. Tingginya penilaian pada aspek ini menunjukkan bahwa alumni tidak hanya menilai dirinya memiliki kapasitas keilmuan dan keterampilan, tetapi juga membawa nilai dalam menjalankan peran setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.
Komunikasi: Tinggi dan Sangat Tinggi Hampir Berimbang
Temuan menarik lainnya terlihat pada kemampuan berkomunikasi verbal dan nonverbal.
Penilaian responden terhadap kompetensi ini terbagi hampir seimbang: 45,5% responden menilai kemampuannya sangat tinggi dan 45,5% lainnya menilai tinggi.
Artinya, hampir seluruh responden memberikan penilaian positif terhadap kompetensi komunikasi yang mereka kuasai saat lulus. Hal ini menjadi penting karena kemampuan menyampaikan ide tidak dapat dipisahkan dari proses kerja seorang lulusan doktor.
Gagasan, hasil penelitian, maupun rekomendasi baru dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika mampu dikomunikasikan kepada berbagai pihak. Kompetensi komunikasi memungkinkan pengetahuan yang kompleks untuk didiskusikan, dipahami, dan dikembangkan bersama.
Berpikir Kritis hingga Pengambilan Keputusan
Kompetensi lain yang juga memperoleh penilaian mayoritas pada kategori tinggi meliputi kemampuan berpikir kritis (45,5%), penyelesaian masalah (54,6%), dan berpikir reflektif atau mengevaluasi hasil kerja sendiri (54,6%).
Ketiga aspek tersebut menggambarkan kemampuan untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencari solusi. Sementara itu, 54,6% responden juga menilai kemampuan mengambil keputusan mereka berada pada kategori tinggi. Kemampuan ini berkaitan erat dengan berbagai kompetensi lainnya.
Kreativitas, Bahasa Inggris, dan Ketangguhan dalam Situasi Menantang
Hasil tracer study juga menunjukkan penilaian tinggi pada sejumlah kompetensi lain, yaitu: Inovasi dan kreativitas: 45,5%; Bekerja di bawah tekanan: 45,5%; Kemampuan Bahasa Inggris: 54,6%; dan Toleransi serta menghargai pendapat: 54,5%.
Meskipun memiliki persentase mayoritas yang berbeda-beda, seluruh kompetensi tersebut menjadi bagian dari kapasitas yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai situasi setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.
Kemampuan berinovasi membuka ruang bagi pengembangan gagasan baru. Kemampuan bekerja di bawah tekanan membantu individu tetap menjalankan peran dalam situasi yang menantang. Sementara itu, toleransi terhadap pandangan yang berbeda menjadi semakin penting ketika seseorang bekerja dan berdiskusi dengan individu yang memiliki latar belakang maupun perspektif beragam.
Gambaran Kompetensi yang Lebih dari Sekadar Penguasaan Ilmu
Secara keseluruhan, hasil Tracer Study TA 2025/2026 memberikan gambaran mengenai bagaimana para alumni Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM menilai kompetensi yang mereka miliki saat menyelesaikan studi doktoral.
Kemampuan berpikir lintas disiplin, adaptasi, manajemen diri, kolaborasi, kepemimpinan, komunikasi, hingga etika dan integritas muncul sebagai bagian dari gambaran kompetensi alumni.
Temuan ini juga mengingatkan bahwa pendidikan doktoral bukan semata-mata tentang menghasilkan seorang ahli dalam bidang tertentu. Namun juga berkaitan dengan pembentukan kemampuan untuk menghadapi persoalan yang kompleks, bekerja dengan beragam pihak, merefleksikan pekerjaan sendiri, serta terus mengembangkan diri.
Melalui tracer study ini, Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM memperoleh masukan dari pengalaman para alumninya. Hasil tersebut dapat menjadi salah satu gambaran untuk terus memahami kompetensi lulusan sekaligus mendukung pengembangan kualitas pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia profesional.