Depresi pascapersalinan bukan hanya persoalan kesehatan mental seorang ibu, tetapi juga berkaitan erat dengan dukungan keluarga, budaya, serta sistem pelayanan kesehatan yang mengelilinginya. Isu tersebut menjadi fokus penelitian disertasi Maya Khairani, M.Psi., Psikolog, yang dipertahankan dalam Ujian Tertutup Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pada Senin, 27 Juli 2026. Disertasi yang diangkat berjudul “Pengembangan Strategi Pencegahan Depresi Pascapersalinan pada Ibu di Aceh Berdasarkan Pengalaman Ibu, Perspektif Keluarga, dan Konsensus Tenaga Kesehatan.”
Ujian Tertutup dipimpin oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Ketua. Maya menyelesaikan penelitian ini di bawah bimbingan Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog sebagai Promotor dan Dra. Muhana Sofiati Utami, M.S., Ph.D., Psikolog sebagai Ko-promotor. Tim Penguji terdiri atas Prof. Dr. Sofia Retnowati, M.S., Psikolog, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, Josephine Maria Julianti Ratna, Ph.D. (Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya), dan Dr. Ners. Darmawati, S.Kep., M.Kep., Sp.Mat. (Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala).
Penelitian Maya mengangkat pentingnya memahami depresi pascapersalinan dari konteks sosial budaya masyarakat Aceh. Melalui pendekatan mixed methods, penelitian ini menemukan bahwa hampir 48% ibu dalam sampel penelitian menunjukkan gejala depresi pascapersalinan. Selain faktor psikologis, penelitian juga menunjukkan bahwa tradisi pascapersalinan dapat memiliki dua sisi: menjadi sumber dukungan sekaligus berpotensi menimbulkan tekanan apabila dijalankan secara kaku. Sebaliknya, dukungan keluarga dan nilai-nilai spiritual terbukti menjadi faktor protektif yang membantu menjaga kesejahteraan psikologis ibu.
Pada tahap berikutnya, Maya melibatkan para tenaga kesehatan melalui metode Delphi untuk menyusun strategi pencegahan yang sesuai dengan konteks Aceh. Hasilnya menunjukkan bahwa pencegahan depresi pascapersalinan perlu dilakukan secara terpadu melalui skrining dini di layanan kesehatan primer, keterlibatan aktif keluarga, serta pendekatan pelayanan yang sensitif terhadap budaya dan nilai-nilai lokal.
“Budaya tidak selalu menjadi faktor risiko. Dalam konteks Aceh, nilai-nilai agama dan dukungan keluarga justru menjadi kekuatan yang dapat melindungi kesehatan mental ibu. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai tersebut sambil menyesuaikan praktik tradisi yang berpotensi menambah beban psikologis ibu,” ungkap Maya Khairani saat memaparkan hasil penelitiannya.
Diskusi selama Ujian Tertutup juga menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan maternal yang tidak hanya berorientasi pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis, dinamika keluarga, dan karakteristik budaya masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat upaya promotif dan preventif sehingga ibu memperoleh dukungan yang lebih komprehensif sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan.
Melalui penelitian ini, Maya berharap hasil disertasinya dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan kebijakan kesehatan ibu di Indonesia, khususnya dalam penyusunan program pencegahan depresi pascapersalinan yang berbasis keluarga, layanan kesehatan primer, dan kearifan lokal. Penelitian ini juga memperkuat pentingnya kolaborasi antara psikologi, kesehatan, dan budaya dalam menciptakan layanan kesehatan mental maternal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.



