Pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan sekolah dalam membantu anak bertumbuh menjadi individu yang sejahtera, berkarakter, dan berkembang secara optimal. Gagasan tersebut menjadi fokus penelitian yang diangkat oleh Wresti Wrediningsih, S.Psi., M.Psi., Psikolog dalam Ujian Tertutup Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang diselenggarakan pada Jumat, 10 Juli 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Wresti mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Flourishing Siswa Sekolah Dasar Berbasis Kekuatan Karakter.” Penelitian ini mengembangkan sekaligus menguji model flourishing siswa sekolah dasar dengan mengintegrasikan berbagai faktor yang berperan dalam perkembangan anak, mulai dari iklim sekolah, pengasuhan berbasis kekuatan (strength-based parenting), pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner-centered teaching), hingga kekuatan karakter sebagai mekanisme psikologis utama.
Ujian Tertutup dipimpin oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM. Disertasi ini disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. Sofia Retnowati, MS., Psikolog sebagai Promotor dan Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., sebagai Ko-promotor.
Adapun Tim Penguji terdiri atas Dr. Yuli Fajar Susetyo, S.Psi., M.Si., Psikolog, Dr. Nurlaila Effendy, M.Si. dari Program Studi Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, serta Ratna Dyah Suryaratri, Ph.D. dari Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan multi-methods yang diawali dengan scoping review untuk memetakan konsep dan faktor-faktor yang memengaruhi flourishing pada anak usia sekolah. Selanjutnya, penelitian empiris dilakukan terhadap 230 siswa sekolah dasar di Yogyakarta menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan antarvariabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan berbasis kekuatan menjadi prediktor paling kuat dalam mendukung flourishing siswa, diikuti oleh iklim sekolah yang positif. Penelitian ini juga menemukan bahwa kekuatan karakter berperan sebagai mekanisme psikologis yang menjembatani pengaruh lingkungan terhadap kesejahteraan dan perkembangan optimal anak.
Dalam presentasinya, Wresti menegaskan bahwa flourishing pada anak tidak terbentuk oleh satu faktor saja, melainkan merupakan hasil interaksi antara lingkungan yang mendukung dan kekuatan yang dimiliki setiap anak.
“Flourishing siswa tidak hanya dibangun oleh lingkungan sekolah yang positif, tetapi juga oleh pengasuhan yang berfokus pada kekuatan anak. Ketika keduanya berjalan beriringan, kekuatan karakter dapat berkembang dan menjadi fondasi bagi kesejahteraan anak”, ungkapnya.
Diskusi selama ujian berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari tim penguji mengenai pengembangan model, implikasi praktis bagi dunia pendidikan, serta peluang implementasi hasil penelitian dalam penyusunan kebijakan sekolah yang lebih berorientasi pada kesejahteraan peserta didik.
Melalui disertasi ini, Wresti memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian psikologi pendidikan positif di Indonesia. Temuan penelitian ini diharapkan menjadi landasan bagi sekolah, guru, orang tua, maupun pemangku kebijakan dalam menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya mendukung prestasi akademik, tetapi juga membantu setiap anak mengenali kekuatan dirinya, membangun karakter positif, dan bertumbuh secara optimal.




