• Tentang UGM
  • Akademik
  • Penelitian
  • Perpustakaan
  • Pusat IT
  • Webmail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada
  • PROFIL
    • SEKILAS PANDANG
    • PENGELOLA
    • PROMOTOR & KO-PROMOTOR
    • UNIT PENDUKUNG PENELITIAN
    • Prosedur Operasional Standar
  • AKADEMIK
    • PANDUAN AKADEMIK
    • Academic Guide
    • Panduan Penulisan Disertasi
    • KURIKULUM
      • KURIKULUM 2014
      • KURIKULUM 2020
    • SIMASTER
    • SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI
    • LEAFLET
  • FASILITAS
    • PERPUSTAKAAN
    • PENJAMINAN MUTU
    • AKSES JURNAL DAN EBOOK
    • LAYANAN TEKNOLOGI INFORMASI
  • KEMAHASISWAAN & ALUMNI
    • PRESTASI MAHASISWA
    • PROMOVENDUS CLUB
    • PROFIL MAHASISWA
    • PROFIL ALUMNI
  • PENDAFTARAN
    • PROSEDUR
    • SYARAT
    • SELEKSI
    • JADWAL SELEKSI
    • DAFTAR
    • Program Fast-Track S2-S3
  • Home
  • Rilis

Medianta Tarigan Kembangkan Inovasi Inovasi Situational Judgment Test dalam Pengukuran Kepribadian

  • Rilis
  • 12 Februari 2026, 15.56
  • Oleh : admin

Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Ujian Tertutup pada Selasa, 10 Februari 2026, atas nama Medianta Tarigan, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Medianta mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengembangan dan Evaluasi Properti Psikometrik Situational Judgment Test dengan Diagnostic Classification Model: Implementasi pada Pengukuran Kepribadian Five Factor Model.”

Ujian dipimpin oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D. selaku Ketua, serta dihadiri oleh tim Promotor dan penguji yang terdiri dari Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D. (Promotor), Agung Santoso, M.A., Ph.D. (Ko-promotor), Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si. (Fakultas Psikologi UGM), Dr. Ridwan Saptoto, S.Psi., M.A., Psikolog (Fakultas Psikologi UGM), Prof. Dr. Ali Ridho, M.Si. (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), dan Dr. Eviana Hikamudin, S.Pd., M.M. (Fakultas Ilmu Pendidikan UPI).

Mengukur Kepribadian dalam Konteks Situasional
Disertasi Medianta berfokus pada pengembangan Situational Judgment Test (SJT) yang dianalisis menggunakan Diagnostic Classification Model (DCM) untuk mengukur kepribadian berdasarkan kerangka Five Factor Model. SJT sendiri merupakan bentuk asesmen yang menyajikan skenario situasional dan meminta partisipan memilih respons yang dianggap paling tepat. Namun, dalam pemaparannya, Medianta menekankan satu hal yang menarik: “Dalam konteks SJT, tidak memilih itu termasuk sebuah pilihan.” Pernyataan tersebut menyoroti bahwa dalam pengukuran berbasis situasi, setiap respons—bahkan ketidakhadiran respons—memiliki makna psikologis yang dapat dianalisis secara sistematis. Dengan memadukan pendekatan SJT dan Diagnostic Classification Model, penelitian ini berupaya menghasilkan alat ukur yang tidak hanya memberikan skor global, tetapi juga mampu mengidentifikasi pola atribut psikologis yang lebih spesifik pada individu.

Kontribusi bagi Pengembangan Asesmen Psikologi
Penelitian ini menjadi langkah inovatif dalam pengembangan asesmen kepribadian yang lebih kontekstual dan diagnostik. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkaya metode pengukuran psikologi yang lebih presisi, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan asesmen modern—baik di ranah pendidikan, organisasi, maupun riset lanjutan. Diskusi dalam ujian berlangsung dinamis, dengan berbagai masukan konstruktif dari tim penguji terkait penguatan model, interpretasi atribut, serta peluang pengembangan lebih lanjut di masa mendatang.

Melalui penelitian ini, Medianta tidak hanya mengembangkan instrumen pengukuran, tetapi juga memperluas cara kita memahami respons manusia dalam konteks situasional—bahwa setiap pilihan, bahkan diam sekalipun, mengandung makna. Semoga hasil penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu psikometri dan asesmen kepribadian di Indonesia.

Penulis: Penulis: Yutia Cesarinda Kusumawati

 

Tags: doktor ilmu psikolgi fakultas psikologi ugm SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur SDGs ujian tertutup

Related Posts

Anita A’isah Lulus Doktor Ilmu Psikologi UGM, Telusuri Perilaku Merokok Remaja di “Kota Kretek”

Rilis Senin, 31 Agustus 2026

Yogyakarta, 31 Agustus 2026 — Bagaimana perilaku merokok pada remaja terbentuk ketika rokok bukan sekadar pilihan personal, tetapi hadir begitu dekat dengan keluarga, lingkungan sosial, hingga identitas sebuah kota? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pintu masuk penelitian disertasi Anita A’isah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Anita mengangkat disertasi berjudul “Perilaku Merokok Remaja Perspektif Psikologi dan Ekologi: Penelitian Etnografi di Kudus ‘Kota Kretek’.” Penelitian tersebut dipresentasikan dalam Ujian Tertutup Disertasi Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi UGM pada Jumat (28/8).

Melalui penelitian tersebut, Anita mengkaji perilaku merokok remaja dengan menggunakan perspektif psikologi dan ekologi. Pendekatan ini menempatkan perilaku merokok tidak semata-mata sebagai keputusan individual, tetapi sebagai perilaku yang terbentuk melalui interaksi individu dengan berbagai lingkungan di sekitarnya.

Melihat Perilaku Merokok dari Perspektif Ekologi

Kudus dipilih sebagai konteks penelitian karena dikenal sebagai “Kota Kretek”, dengan industri rokok yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut menghadirkan konteks yang khas dalam memahami bagaimana remaja berinteraksi dengan rokok dan bagaimana lingkungan turut membentuk pandangan terhadap perilaku merokok.

Penelitian Anita menunjukkan bahwa lingkungan dapat memiliki peran yang kompleks. Keluarga, misalnya, dapat menjadi faktor protektif melalui dukungan dan pengawasan, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menjadi faktor risiko ketika perilaku merokok dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

“Industri rokok itu jadi modal membentuk permisif merokok dan keluarga bisa jadi faktor protektif dan risiko,” ujar Anita dalam refleksinya pada ujian disertasi.

Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa faktor lingkungan tidak selalu memberikan pengaruh dalam satu arah. Peran lingkungan sangat bergantung pada relasi, pengalaman, serta kondisi sosial tempat remaja tumbuh dan berkembang.

Dari Keluarga hingga Kebijakan

Pendekatan ekologis dalam penelitian ini juga memperluas pemahaman mengenai upaya penanggulangan perilaku merokok remaja. Intervensi tidak cukup diarahkan pada individu, tetapi perlu mempertimbangkan keluarga, lingkungan sosial, komunitas, hingga kebijakan yang berlaku.

Dalam konteks Kudus, upaya tersebut menghadapi tantangan tersendiri karena industri rokok memiliki posisi yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Anita menyoroti kondisi tersebut dalam pembahasannya mengenai program penanggulangan rokok di daerah.

“Di Kota Kretek atau Kudus, per Oktober 2024 itu ada program SEHAT dan penanggulangan rokok disisipkan dalam tujuan untuk penanggulangan narkotika. Tidak langsung rokok karena sponsor di Kudus itu banyak dari industri rokok,” jelasnya.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya mempertimbangkan konteks lokal dalam merancang intervensi kesehatan masyarakat. Penanggulangan perilaku merokok berlangsung dalam lingkungan yang memiliki nilai, kepentingan, relasi sosial, dan karakteristik budaya tersendiri.

Pendekatan Etnografi Hadirkan Realitas Kehidupan Remaja

Melalui pendekatan etnografi, Anita berupaya memahami perilaku merokok dari kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari remaja dan lingkungan sosial tempat mereka tumbuh. Pendekatan tersebut memungkinkan perilaku merokok dilihat tidak hanya melalui faktor risiko secara terpisah, tetapi juga melalui pengalaman, interaksi, dan konteks sosial-budaya yang menyertainya.

Dengan perspektif tersebut, penelitian Anita menawarkan pemahaman bahwa pertanyaan mengenai mengapa remaja merokok tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan mengenai lingkungan tempat mereka tumbuh. Relasi dengan keluarga, teman sebaya, komunitas, nilai sosial, hingga respons lingkungan terhadap rokok menjadi bagian dari ekosistem yang perlu diperhatikan.

Ujian Tertutup Menjadi Ruang Pengujian Akademik

Ujian Tertutup menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademik Anita sebagai mahasiswa doktoral. Dalam forum tersebut, disertasi dipresentasikan dan didiskusikan secara mendalam bersama para penguji dari berbagai bidang keilmuan.

Ujian disertasi Anita melibatkan Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog, sebagai promotor; Dr. Yuli Fajar Susetyo, S.Psi., M.Si., Psikolog, sebagai ko-promotor; serta Dr. Wenty Marina Minza, M.A., sebagai ketua penguji.

Adapun penguji lainnya adalah Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D; Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A., dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM; serta Dr. Erik Aditia Ismaya, S.Pd., M.A., dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muria Kudus.

Keterlibatan penguji dari berbagai latar belakang turut memperkaya pembahasan mengenai perilaku merokok remaja, terutama ketika persoalan tersebut ditempatkan pada persilangan psikologi, kesehatan masyarakat, pendidikan, serta konteks sosial-budaya.

Melalui disertasinya, Anita A’isah memperlihatkan pentingnya memahami perilaku merokok remaja secara lebih menyeluruh. Perspektif psikologi dan ekologi membuka ruang untuk melihat bahwa perilaku kesehatan remaja tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui interaksi antara individu dan lingkungan yang terus berkembang di sekitarnya.

Kajian tersebut sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan kontekstual dalam merancang strategi pencegahan dan penanggulangan perilaku merokok pada remaja, khususnya di wilayah dengan karakter sosial dan ekonomi yang memiliki keterkaitan erat dengan industri rokok.

Lebih dari Sekadar Gelar: Potret Kompetensi Alumni Doktor Ilmu Psikologi UGM

Rilis Senin, 31 Agustus 2026

Kemampuan seorang lulusan doktor tidak hanya tercermin dari penguasaan bidang keilmuan. Berpikir kritis, bekerja bersama orang lain, mengambil keputusan, beradaptasi, hingga menjaga etika dan integritas juga menjadi bagian penting dari kompetensi yang dibawa lulusan setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.

Gambaran tersebut terlihat dalam Tracer Study Tahun Akademik 2025/2026 yang dilaksanakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada melalui Office of Cooperation, International Affairs, and Alumni Faculty (OCIA). Sebanyak 11 alumni Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM menjadi responden dalam tracer study ini.

Salah satu aspek yang diukur dalam instrumen tracer study adalah penilaian alumni terhadap tingkat kompetensi yang telah mereka kuasai ketika lulus sebagai doktor. Penilaian dilakukan menggunakan skala 1–5, mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi.

Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai berbagai kompetensi yang dimiliki berada pada kategori tinggi. Temuan ini memberikan gambaran bahwa pengalaman pendidikan doktoral tidak hanya berkaitan dengan pendalaman bidang keilmuan, tetapi juga dengan pengembangan cara berpikir dan berbagai keterampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks profesional.

Berpikir Lintas Disiplin Menjadi Salah Satu Kompetensi yang Paling Menonjol

Salah satu temuan paling menonjol adalah kemampuan berpikir lintas disiplin ilmu. Sebanyak 81,8% responden menilai kompetensi ini berada pada kategori tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa perjalanan studi doktoral tidak selalu berjalan dalam batas-batas satu bidang ilmu saja. Dalam proses penelitian, mahasiswa doktoral berhadapan dengan berbagai persoalan yang sering kali membutuhkan sudut pandang berbeda. Kemampuan melihat sebuah isu dari lebih dari satu perspektif menjadi salah satu bekal penting, terutama ketika persoalan di masa sekarang semakin kompleks dan saling berkaitan.

Kemampuan tersebut juga berjalan beriringan dengan penguasaan keahlian berdasarkan bidang ilmu, yang dinilai tinggi oleh 63,6% responden. Sementara itu, pengetahuan umum juga memperoleh penilaian tinggi dari 54,6% responden.

Dengan kata lain, hasil tracer study ini memperlihatkan dua sisi kompetensi yang saling melengkapi: memiliki kedalaman dalam bidang keilmuan sekaligus kemampuan untuk melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas.

Adaptif dan Mampu Mengelola Diri

Selain kemampuan akademik dan berpikir, sejumlah kompetensi personal juga memperoleh penilaian tinggi dari para alumni. Sebanyak 72,7% responden menilai kemampuan adaptasi mereka berada pada kategori tinggi.

Kemampuan untuk beradaptasi menjadi relevan karena lingkungan kerja, tuntutan profesi, teknologi, hingga persoalan yang dihadapi masyarakat terus mengalami perubahan. Kompetensi lain yang juga memperoleh penilaian tinggi dari 63,6% responden adalah: manajemen waktu; negosiasi; bekerja secara mandiri; bekerja dalam tim; kepemimpinan; serta kemampuan pengembangan diri.

Menariknya, kemampuan bekerja mandiri dan bekerja dalam tim sama-sama memperoleh penilaian tinggi dari 63,6% responden. Dua kompetensi ini mungkin terlihat berbeda, tetapi keduanya justru saling melengkapi. Seorang doktor diharapkan mampu mengembangkan pemikiran dan pekerjaannya secara mandiri, sekaligus tetap dapat berkolaborasi dengan orang lain ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan berbagai perspektif dan keahlian.

Etika dan Integritas: Satu-satunya Kompetensi yang Mayoritas Dinilai “Sangat Tinggi”

Jika sebagian besar kompetensi memperoleh penilaian mayoritas pada kategori tinggi, terdapat satu temuan yang berbeda —sebanyak 54,6% responden menilai kompetensi etika dan integritas mereka berada pada kategori sangat tinggi.

Temuan ini menjadi salah satu sorotan penting dalam hasil tracer study. Dalam dunia profesional maupun akademik, kompetensi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan atau menghasilkan keputusan. Cara seseorang menjalankan kompetensinya juga memiliki arti yang sama pentingnya. Tingginya penilaian pada aspek ini menunjukkan bahwa alumni tidak hanya menilai dirinya memiliki kapasitas keilmuan dan keterampilan, tetapi juga membawa nilai dalam menjalankan peran setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.

Komunikasi: Tinggi dan Sangat Tinggi Hampir Berimbang

Temuan menarik lainnya terlihat pada kemampuan berkomunikasi verbal dan nonverbal.

Penilaian responden terhadap kompetensi ini terbagi hampir seimbang: 45,5% responden menilai kemampuannya sangat tinggi dan 45,5% lainnya menilai tinggi.

Artinya, hampir seluruh responden memberikan penilaian positif terhadap kompetensi komunikasi yang mereka kuasai saat lulus. Hal ini menjadi penting karena kemampuan menyampaikan ide tidak dapat dipisahkan dari proses kerja seorang lulusan doktor.

Gagasan, hasil penelitian, maupun rekomendasi baru dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika mampu dikomunikasikan kepada berbagai pihak. Kompetensi komunikasi memungkinkan pengetahuan yang kompleks untuk didiskusikan, dipahami, dan dikembangkan bersama.

Berpikir Kritis hingga Pengambilan Keputusan

Kompetensi lain yang juga memperoleh penilaian mayoritas pada kategori tinggi meliputi kemampuan berpikir kritis (45,5%), penyelesaian masalah (54,6%), dan berpikir reflektif atau mengevaluasi hasil kerja sendiri (54,6%).

Ketiga aspek tersebut menggambarkan kemampuan untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencari solusi. Sementara itu, 54,6% responden juga menilai kemampuan mengambil keputusan mereka berada pada kategori tinggi. Kemampuan ini berkaitan erat dengan berbagai kompetensi lainnya. 

Kreativitas, Bahasa Inggris, dan Ketangguhan dalam Situasi Menantang

Hasil tracer study juga menunjukkan penilaian tinggi pada sejumlah kompetensi lain, yaitu: Inovasi dan kreativitas: 45,5%; Bekerja di bawah tekanan: 45,5%; Kemampuan Bahasa Inggris: 54,6%; dan Toleransi serta menghargai pendapat: 54,5%.

Meskipun memiliki persentase mayoritas yang berbeda-beda, seluruh kompetensi tersebut menjadi bagian dari kapasitas yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai situasi setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.

Kemampuan berinovasi membuka ruang bagi pengembangan gagasan baru. Kemampuan bekerja di bawah tekanan membantu individu tetap menjalankan peran dalam situasi yang menantang. Sementara itu, toleransi terhadap pandangan yang berbeda menjadi semakin penting ketika seseorang bekerja dan berdiskusi dengan individu yang memiliki latar belakang maupun perspektif beragam.

Gambaran Kompetensi yang Lebih dari Sekadar Penguasaan Ilmu

Secara keseluruhan, hasil Tracer Study TA 2025/2026 memberikan gambaran mengenai bagaimana para alumni Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM menilai kompetensi yang mereka miliki saat menyelesaikan studi doktoral.

Kemampuan berpikir lintas disiplin, adaptasi, manajemen diri, kolaborasi, kepemimpinan, komunikasi, hingga etika dan integritas muncul sebagai bagian dari gambaran kompetensi alumni.

Temuan ini juga mengingatkan bahwa pendidikan doktoral bukan semata-mata tentang menghasilkan seorang ahli dalam bidang tertentu. Namun juga berkaitan dengan pembentukan kemampuan untuk menghadapi persoalan yang kompleks, bekerja dengan beragam pihak, merefleksikan pekerjaan sendiri, serta terus mengembangkan diri.

Melalui tracer study ini, Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM memperoleh masukan dari pengalaman para alumninya. Hasil tersebut dapat menjadi salah satu gambaran untuk terus memahami kompetensi lulusan sekaligus mendukung pengembangan kualitas pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia profesional.

Menjaga Kesehatan Mental Ibu Pascapersalinan: Ujian Tertutup Maya Khairani Bahas Strategi Pencegahan Depresi Pascapersalinan Berbasis Budaya Aceh

Rilis Rabu, 29 Juli 2026

Depresi pascapersalinan bukan hanya persoalan kesehatan mental seorang ibu, tetapi juga berkaitan erat dengan dukungan keluarga, budaya, serta sistem pelayanan kesehatan yang mengelilinginya. Isu tersebut menjadi fokus penelitian disertasi Maya Khairani, M.Psi., Psikolog, yang dipertahankan dalam Ujian Tertutup Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pada Senin, 27 Juli 2026. Disertasi yang diangkat berjudul “Pengembangan Strategi Pencegahan Depresi Pascapersalinan pada Ibu di Aceh Berdasarkan Pengalaman Ibu, Perspektif Keluarga, dan Konsensus Tenaga Kesehatan.”

Ujian Tertutup dipimpin oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Ketua. Maya menyelesaikan penelitian ini di bawah bimbingan Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog sebagai Promotor dan Dra. Muhana Sofiati Utami, M.S., Ph.D., Psikolog sebagai Ko-promotor. Tim Penguji terdiri atas Prof. Dr. Sofia Retnowati, M.S., Psikolog, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, Josephine Maria Julianti Ratna, Ph.D. (Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya), dan Dr. Ners. Darmawati, S.Kep., M.Kep., Sp.Mat. (Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala).

Penelitian Maya mengangkat pentingnya memahami depresi pascapersalinan dari konteks sosial budaya masyarakat Aceh. Melalui pendekatan mixed methods, penelitian ini menemukan bahwa hampir 48% ibu dalam sampel penelitian menunjukkan gejala depresi pascapersalinan. Selain faktor psikologis, penelitian juga menunjukkan bahwa tradisi pascapersalinan dapat memiliki dua sisi: menjadi sumber dukungan sekaligus berpotensi menimbulkan tekanan apabila dijalankan secara kaku. Sebaliknya, dukungan keluarga dan nilai-nilai spiritual terbukti menjadi faktor protektif yang membantu menjaga kesejahteraan psikologis ibu.

Pada tahap berikutnya, Maya melibatkan para tenaga kesehatan melalui metode Delphi untuk menyusun strategi pencegahan yang sesuai dengan konteks Aceh. Hasilnya menunjukkan bahwa pencegahan depresi pascapersalinan perlu dilakukan secara terpadu melalui skrining dini di layanan kesehatan primer, keterlibatan aktif keluarga, serta pendekatan pelayanan yang sensitif terhadap budaya dan nilai-nilai lokal.

“Budaya tidak selalu menjadi faktor risiko. Dalam konteks Aceh, nilai-nilai agama dan dukungan keluarga justru menjadi kekuatan yang dapat melindungi kesehatan mental ibu. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai tersebut sambil menyesuaikan praktik tradisi yang berpotensi menambah beban psikologis ibu,” ungkap Maya Khairani saat memaparkan hasil penelitiannya.

Diskusi selama Ujian Tertutup juga menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan maternal yang tidak hanya berorientasi pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis, dinamika keluarga, dan karakteristik budaya masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat upaya promotif dan preventif sehingga ibu memperoleh dukungan yang lebih komprehensif sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan.

Melalui penelitian ini, Maya berharap hasil disertasinya dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan kebijakan kesehatan ibu di Indonesia, khususnya dalam penyusunan program pencegahan depresi pascapersalinan yang berbasis keluarga, layanan kesehatan primer, dan kearifan lokal. Penelitian ini juga memperkuat pentingnya kolaborasi antara psikologi, kesehatan, dan budaya dalam menciptakan layanan kesehatan mental maternal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Ujian Tertutup Dewi Mufidatul Angkat Model Kesiapsiagaan Psikologis Anak Usia Dini di Wilayah Bencana

Rilis Selasa, 21 Juli 2026

Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan sistem peringatan dini, tetapi juga perlu dibangun sejak usia dini melalui lingkungan yang mendukung. Berangkat dari gagasan tersebut, Dewi Mufidatul Ummah, M.Psi., Psikolog mengangkat penelitian mengenai kesiapsiagaan psikologis anak usia dini dalam Ujian Tertutup Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang diselenggarakan pada Jumat, 17 Juli 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Dewi mempertahankan disertasinya yang berjudul “Bakujaga Torang Pe Ana”: Kesiapsiagaan Psikologis Anak Usia Dini Berbasis Tripusat Pendidikan dalam Menghadapi Erupsi Gunung Gamalama di Pulau Ternate. Penelitian ini menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan dalam membangun kesiapsiagaan psikologis anak, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) yang hidup di masyarakat sekitar Gunung Gamalama.

Ujian Tertutup dipimpin oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., Dekan Fakultas Psikologi UGM, selaku Ketua Tim Penguji. Disertasi ini dibimbing oleh Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D. sebagai Promotor, serta Prof. Dr. rer. nat. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. dari Fakultas Geografi UGM dan Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., sebagai Ko-promotor.

Adapun Tim Penguji terdiri atas Prof. Dr. M. Baiquni, M.A. (Fakultas Geografi UGM), Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, serta Dr. Rosita Wondal, M.Pd. dari Program Studi PG-PAUD Universitas Khairun Ternate.

Penelitian ini menyoroti bahwa kesiapsiagaan psikologis anak usia dini tidak hanya dibentuk melalui edukasi kebencanaan secara formal, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari, budaya lokal, dan nilai-nilai yang diwariskan dalam komunitas. Dalam konteks masyarakat di lereng Gunung Gamalama, pengetahuan lokal menjadi modal penting untuk membantu anak mengenali tanda-tanda bahaya sekaligus memahami cara merespons situasi bencana secara tepat.

Dalam presentasinya, Dewi menegaskan bahwa kearifan lokal memiliki peran strategis dalam membangun kesiapsiagaan anak.

“Spiritualitas dan pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat sekitar Gunung Gamalama merupakan modal penting bagi anak untuk mengenali tanda-tanda kebencanaan sejak dini. Ketika pengetahuan itu diperkenalkan melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, anak akan tumbuh lebih siap menghadapi risiko bencana”, ungkap Dewi. 

Diskusi selama ujian berlangsung dinamis dan memperkaya pengembangan penelitian. Salah satu masukan disampaikan oleh Pradytia Putri Pertiwi, Ph.D. yang menekankan pentingnya penyesuaian penyajian instrumen dengan karakteristik partisipan, khususnya anak usia dini, agar konsep yang dibangun dapat dipahami secara lebih tepat.

Sementara itu, Prof. Dr. rer. nat. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. menggarisbawahi pentingnya menghubungkan aspek psikologis dengan konsep hazard exposure dan vulnerability dalam kajian kebencanaan. Ia juga mendorong pengembangan informasi geospasial yang lebih ramah anak, seperti penyediaan peta evakuasi di ruang-ruang publik yang sering dikunjungi anak-anak.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D. mengajak peneliti untuk memperjelas makna local wisdom dalam konteks penelitian. Menanggapi hal tersebut, Dewi menjelaskan bahwa pengetahuan lokal dapat menjadi modal sosial yang membantu masyarakat melindungi anak usia dini ketika menghadapi tanda-tanda bahaya erupsi, sekaligus memperkuat hubungan antara keluarga, sekolah, dan komunitas dalam upaya mitigasi bencana.

Melalui disertasi ini, Dewi memberikan kontribusi terhadap pengembangan psikologi kebencanaan di Indonesia dengan menghadirkan model kesiapsiagaan psikologis yang berpijak pada karakteristik budaya lokal. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, lembaga pendidikan, praktisi kebencanaan, serta masyarakat dalam merancang program kesiapsiagaan yang lebih inklusif, kontekstual, dan ramah anak.

 

Universitas Gadjah Mada

Program Studi Doktor Ilmu Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
doktor.psikologi[at]ugm.ac.id
Doktor Ilmu Psikologi UGM
doktorpsikologiugm
+62 822 2720 5719
+62 (274) 550435
+62 (274) 550435

Profil

  • Sekilas Pandang
  • Pengelola
  • Promotor & Ko-Promotor
  • Unit Pendukung Penelitian

Akademik

  • Panduan Akademik
  • Kurikulum 2014
  • Kurikulum 2020
  • Simaster
  • Sistem Informasi Terintegrasi

Fasilitas

  • PERPUSTAKAAN
  • PENJAMINAN MUTU
  • AKSES JURNAL DAN EBOOK
  • LAYANAN TEKNOLOGI INFORMASI

Kemahasiswaan & Alumni

  • Prestasi Mahasiswa
  • Promovendus Club
  • Profil Mahasiswa

© 2021 Universitas Gadjah Mada