• Tentang UGM
  • Akademik
  • Penelitian
  • Perpustakaan
  • Pusat IT
  • Webmail
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada
  • PROFIL
    • SEKILAS PANDANG
    • PENGELOLA
    • PROMOTOR & KO-PROMOTOR
    • UNIT PENDUKUNG PENELITIAN
    • Prosedur Operasional Standar
  • AKADEMIK
    • PANDUAN AKADEMIK
    • Academic Guide
    • Panduan Penulisan Disertasi
    • KURIKULUM
      • KURIKULUM 2014
      • KURIKULUM 2020
    • SIMASTER
    • SISTEM INFORMASI TERINTEGRASI
    • LEAFLET
  • FASILITAS
    • PERPUSTAKAAN
    • PENJAMINAN MUTU
    • AKSES JURNAL DAN EBOOK
    • LAYANAN TEKNOLOGI INFORMASI
  • KEMAHASISWAAN & ALUMNI
    • PRESTASI MAHASISWA
    • PROMOVENDUS CLUB
    • PROFIL MAHASISWA
    • PROFIL ALUMNI
  • PENDAFTARAN
    • PROSEDUR
    • SYARAT
    • SELEKSI
    • JADWAL SELEKSI
    • DAFTAR
    • Program Fast-Track S2-S3
  • Home
  • Rilis

Ujian Tertutup Brigitta Erlita Tri Anggadewi: Menggali Makna Independent Living bagi Individu dengan Disabilitas Intelektual

  • Rilis
  • 2 September 2025, 16.11
  • Oleh : admin

Pada Selasa, 2 September 2025, Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM Kembali menggelar ujian tertutup ketiga dari mahasiswa angkatan 2021. Giliran Brigitta Erlita Tri Anggadewi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mempertahankan hasil riset disertasinya yang berjudul Konsep Independent Living Pada Orang Dengan Disabilitas Intelektual Dalam Konteks Indonesia. 

Tim pengujian terdiri dari Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog, sebagai Promotor dan Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, sebagai Ko-promotor. Disertasi Erlita juga diuji oleh para pakar di bidangnya, yaitu: Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D., (Fakultas Psikologi UGM), Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog, (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Komisi Ilmu Sosial Jakarta), dan Prof. Dr. Mumpuniarti, M.Pd. (Pendidikan Luar Biasa, FIP dan Psikologi, UNY). Dr. Wenty Marina Minza, M.A., selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Psikologi UGM memimpin jalannya ujian.

Disertasi ini terdiri dari lima studi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari individu dengan disabilitas intelektual, orang tua, guru, psikolog (tumbuh kembang, SLB, rehabilitasi), dokter, hingga pembuat kebijakan. Dengan pendekatan ini, Erlita berusaha memotret makna independent living secara komprehensif dari berbagai sudut pandang.

Erlita memaparkan kemandirian bukan sekadar konsep individual, melainkan juga hasil dari interaksi, dukungan, dan pemahaman lingkungan sekitar. “Penting untuk mendengarkan bagaimana perspektif independent living dari orang-orang yang ada di sekitar individu dengan disabilitas intelektual,” ujarnya.

Erlita juga menegaskan komitmennya untuk menyebarluaskan hasil penelitiannya kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses riset. Ia berharap temuannya dapat membuka ruang diskusi baru mengenai bagaimana independent living dapat diwujudkan secara lebih inklusif dan kontekstual di Indonesia.

Penelitian ini diharapkan tidak hanya menjadi kontribusi bagi pengembangan ilmu psikologi, tetapi juga memberi dampak nyata dalam mendorong masyarakat yang lebih peduli, inklusif, dan mendukung kemandirian bagi individu dengan disabilitas intelektual.

Selamat kepada Brigitta Erlita Tri Anggadewi atas capaian penting ini. Semoga langkah berikutnya semakin membuka jalan bagi hadirnya psikologi yang berdampak luas bagi kehidupan.

 

Penulis: Yutia Cesarinda Kusumawati
Editor: Sussanti

Tags: SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi SDGs ujian tertutup

Related Posts

Penelitian Doktor Ilmu Psikologi UGM Kembangkan Konsep Epistemic Infrastructure Hadapi Era Post-Truth

Rilis Kamis, 10 September 2026

Era post-truth menghadirkan tantangan baru bagi perguruan tinggi. Misinformasi, hoaks, bias informasi, dan kompleksitas informasi digital menuntut kemampuan berpikir kritis tidak hanya sebagai keterampilan individu, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem akademik yang mendorong pencarian kebenaran dan pengambilan keputusan berbasis bukti.

Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian Widia Sri Ardias, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam Ujian Tertutup Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (8/9). Dalam ujian tersebut, Widia mempertahankan disertasinya berjudul “Epistemic Infrastructure: Strategi Perguruan Tinggi Menghadapi Post-Truth.”

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana perguruan tinggi dapat membangun ekosistem yang mendorong sivitas akademika untuk tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga terbiasa mencari, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan.

Dari Kemampuan Individu hingga Ekosistem Perguruan Tinggi

Widia menggunakan desain kualitatif multistudy yang terdiri atas tiga studi. Studi pertama berupa scoping review terhadap 26 artikel untuk memetakan faktor yang berperan dalam pengembangan berpikir kritis. Studi kedua menggunakan meta-ethnography terhadap 16 artikel untuk menyusun sintesis konseptual mengenai strategi pengembangan berpikir kritis. Sementara itu, studi ketiga berupa studi kasus interpretatif yang melibatkan sivitas akademika dan alumni UGM untuk memahami pengalaman kehidupan akademik dalam konteks pengembangan berpikir kritis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berpikir kritis tidak berdiri sendiri. Pada tingkat individu, kemampuan tersebut berkaitan dengan epistemic cognition, termasuk bagaimana individu memahami tujuan dan standar pengetahuan, mengevaluasi bukti, mencari kebenaran, menghadapi ketidakpastian, serta terbuka terhadap perspektif yang berbeda.

Namun, kemampuan tersebut juga berkembang melalui proses sosial dalam lingkungan akademik.

“Interaksi akademik yang dialogis, pertukaran argumentasi, refleksi, pembelajaran berbasis pengalaman, serta relasi yang aman dan terbuka menjadi bagian penting dalam membangun cara berpikir kritis,” ungkap Widia.

Penelitian tersebut selanjutnya menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran pada tingkat organisasi melalui konsep organizational epistemic infrastructure. Infrastruktur ini mencakup sistem kurikulum dan pembelajaran, kualitas kepemimpinan dan dosen, nilai serta budaya akademik, hingga kebijakan dan infrastruktur institusional.

Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai ekosistem yang membentuk bagaimana pengetahuan diperoleh, diuji, dipertukarkan, dan digunakan.

Menjawab Tantangan Post-Truth melalui Budaya Akademik

Konsep epistemic infrastructure yang ditawarkan dalam penelitian Widia juga diarahkan pada strategi yang dapat diterapkan secara konkret di perguruan tinggi.

Dalam sesi diskusi, Dr. Abdul Rokhmat Sairah Z., S.Fil., M.Phil., dari Fakultas Filsafat UGM menanyakan langkah spesifik yang dapat dilakukan untuk membangun infrastruktur tersebut.

Widia menjelaskan bahwa salah satu bentuk implementasinya dapat berupa policy brief yang memuat arah kebijakan pengambilan keputusan di perguruan tinggi berdasarkan proses ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Penguatan budaya pengetahuan yang berlandaskan proses berpikir logis juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Memperkuat Ketahanan Epistemik Sivitas Akademika

Ujian Tertutup tersebut diketuai oleh Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Psikologi UGM. Widia Sri Ardias dibimbing oleh Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog, sebagai Promotor dan Dr. Sumaryono, M.Si., Psikolog, sebagai Ko-promotor.

Tim penguji terdiri atas Dr. Ridwan Saptoto, S.Psi., M.A., Psikolog; Dr. Abdul Rokhmat Sairah Z., S.Fil., M.Phil., dari Fakultas Filsafat UGM; serta Dr. H. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog, dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia.

Melalui penelitian ini, Widia menawarkan perspektif bahwa menghadapi post-truth bukan semata-mata persoalan meningkatkan kemampuan individu dalam memilah informasi. Perguruan tinggi juga perlu membangun sistem dan budaya akademik yang memungkinkan proses pencarian pengetahuan berlangsung secara kritis, terbuka, dan bertanggung jawab.

Temuan penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan kebijakan, praktik pembelajaran, dan budaya akademik yang mampu memperkuat ketahanan epistemik sivitas akademika dalam menghadapi tantangan informasi di era post-truth.

Penulis: Yutia Cesarinda Kusumawati
Editor: Sussanti

Anita A’isah Lulus Doktor Ilmu Psikologi UGM, Telusuri Perilaku Merokok Remaja di “Kota Kretek”

Rilis Senin, 31 Agustus 2026

Yogyakarta, 31 Agustus 2026 — Bagaimana perilaku merokok pada remaja terbentuk ketika rokok bukan sekadar pilihan personal, tetapi hadir begitu dekat dengan keluarga, lingkungan sosial, hingga identitas sebuah kota? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pintu masuk penelitian disertasi Anita A’isah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Anita mengangkat disertasi berjudul “Perilaku Merokok Remaja Perspektif Psikologi dan Ekologi: Penelitian Etnografi di Kudus ‘Kota Kretek’.” Penelitian tersebut dipresentasikan dalam Ujian Tertutup Disertasi Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi UGM pada Jumat (28/8).

Melalui penelitian tersebut, Anita mengkaji perilaku merokok remaja dengan menggunakan perspektif psikologi dan ekologi. Pendekatan ini menempatkan perilaku merokok tidak semata-mata sebagai keputusan individual, tetapi sebagai perilaku yang terbentuk melalui interaksi individu dengan berbagai lingkungan di sekitarnya.

Melihat Perilaku Merokok dari Perspektif Ekologi

Kudus dipilih sebagai konteks penelitian karena dikenal sebagai “Kota Kretek”, dengan industri rokok yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut menghadirkan konteks yang khas dalam memahami bagaimana remaja berinteraksi dengan rokok dan bagaimana lingkungan turut membentuk pandangan terhadap perilaku merokok.

Penelitian Anita menunjukkan bahwa lingkungan dapat memiliki peran yang kompleks. Keluarga, misalnya, dapat menjadi faktor protektif melalui dukungan dan pengawasan, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menjadi faktor risiko ketika perilaku merokok dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

“Industri rokok itu jadi modal membentuk permisif merokok dan keluarga bisa jadi faktor protektif dan risiko,” ujar Anita dalam refleksinya pada ujian disertasi.

Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa faktor lingkungan tidak selalu memberikan pengaruh dalam satu arah. Peran lingkungan sangat bergantung pada relasi, pengalaman, serta kondisi sosial tempat remaja tumbuh dan berkembang.

Dari Keluarga hingga Kebijakan

Pendekatan ekologis dalam penelitian ini juga memperluas pemahaman mengenai upaya penanggulangan perilaku merokok remaja. Intervensi tidak cukup diarahkan pada individu, tetapi perlu mempertimbangkan keluarga, lingkungan sosial, komunitas, hingga kebijakan yang berlaku.

Dalam konteks Kudus, upaya tersebut menghadapi tantangan tersendiri karena industri rokok memiliki posisi yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Anita menyoroti kondisi tersebut dalam pembahasannya mengenai program penanggulangan rokok di daerah.

“Di Kota Kretek atau Kudus, per Oktober 2024 itu ada program SEHAT dan penanggulangan rokok disisipkan dalam tujuan untuk penanggulangan narkotika. Tidak langsung rokok karena sponsor di Kudus itu banyak dari industri rokok,” jelasnya.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya mempertimbangkan konteks lokal dalam merancang intervensi kesehatan masyarakat. Penanggulangan perilaku merokok berlangsung dalam lingkungan yang memiliki nilai, kepentingan, relasi sosial, dan karakteristik budaya tersendiri.

Pendekatan Etnografi Hadirkan Realitas Kehidupan Remaja

Melalui pendekatan etnografi, Anita berupaya memahami perilaku merokok dari kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari remaja dan lingkungan sosial tempat mereka tumbuh. Pendekatan tersebut memungkinkan perilaku merokok dilihat tidak hanya melalui faktor risiko secara terpisah, tetapi juga melalui pengalaman, interaksi, dan konteks sosial-budaya yang menyertainya.

Dengan perspektif tersebut, penelitian Anita menawarkan pemahaman bahwa pertanyaan mengenai mengapa remaja merokok tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan mengenai lingkungan tempat mereka tumbuh. Relasi dengan keluarga, teman sebaya, komunitas, nilai sosial, hingga respons lingkungan terhadap rokok menjadi bagian dari ekosistem yang perlu diperhatikan.

Ujian Tertutup Menjadi Ruang Pengujian Akademik

Ujian Tertutup menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademik Anita sebagai mahasiswa doktoral. Dalam forum tersebut, disertasi dipresentasikan dan didiskusikan secara mendalam bersama para penguji dari berbagai bidang keilmuan.

Ujian disertasi Anita melibatkan Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog, sebagai promotor; Dr. Yuli Fajar Susetyo, S.Psi., M.Si., Psikolog, sebagai ko-promotor; serta Dr. Wenty Marina Minza, M.A., sebagai ketua penguji.

Adapun penguji lainnya adalah Elga Andriana, S.Psi, M.Ed, Ph.D; Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A., dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM; serta Dr. Erik Aditia Ismaya, S.Pd., M.A., dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muria Kudus.

Keterlibatan penguji dari berbagai latar belakang turut memperkaya pembahasan mengenai perilaku merokok remaja, terutama ketika persoalan tersebut ditempatkan pada persilangan psikologi, kesehatan masyarakat, pendidikan, serta konteks sosial-budaya.

Melalui disertasinya, Anita A’isah memperlihatkan pentingnya memahami perilaku merokok remaja secara lebih menyeluruh. Perspektif psikologi dan ekologi membuka ruang untuk melihat bahwa perilaku kesehatan remaja tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui interaksi antara individu dan lingkungan yang terus berkembang di sekitarnya.

Kajian tersebut sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan kontekstual dalam merancang strategi pencegahan dan penanggulangan perilaku merokok pada remaja, khususnya di wilayah dengan karakter sosial dan ekonomi yang memiliki keterkaitan erat dengan industri rokok.

Lebih dari Sekadar Gelar: Potret Kompetensi Alumni Doktor Ilmu Psikologi UGM

Rilis Senin, 31 Agustus 2026

Kemampuan seorang lulusan doktor tidak hanya tercermin dari penguasaan bidang keilmuan. Berpikir kritis, bekerja bersama orang lain, mengambil keputusan, beradaptasi, hingga menjaga etika dan integritas juga menjadi bagian penting dari kompetensi yang dibawa lulusan setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.

Gambaran tersebut terlihat dalam Tracer Study Tahun Akademik 2025/2026 yang dilaksanakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada melalui Office of Cooperation, International Affairs, and Alumni Faculty (OCIA). Sebanyak 11 alumni Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM menjadi responden dalam tracer study ini.

Salah satu aspek yang diukur dalam instrumen tracer study adalah penilaian alumni terhadap tingkat kompetensi yang telah mereka kuasai ketika lulus sebagai doktor. Penilaian dilakukan menggunakan skala 1–5, mulai dari sangat rendah hingga sangat tinggi.

Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai berbagai kompetensi yang dimiliki berada pada kategori tinggi. Temuan ini memberikan gambaran bahwa pengalaman pendidikan doktoral tidak hanya berkaitan dengan pendalaman bidang keilmuan, tetapi juga dengan pengembangan cara berpikir dan berbagai keterampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai konteks profesional.

Berpikir Lintas Disiplin Menjadi Salah Satu Kompetensi yang Paling Menonjol

Salah satu temuan paling menonjol adalah kemampuan berpikir lintas disiplin ilmu. Sebanyak 81,8% responden menilai kompetensi ini berada pada kategori tinggi.

Temuan ini menunjukkan bahwa perjalanan studi doktoral tidak selalu berjalan dalam batas-batas satu bidang ilmu saja. Dalam proses penelitian, mahasiswa doktoral berhadapan dengan berbagai persoalan yang sering kali membutuhkan sudut pandang berbeda. Kemampuan melihat sebuah isu dari lebih dari satu perspektif menjadi salah satu bekal penting, terutama ketika persoalan di masa sekarang semakin kompleks dan saling berkaitan.

Kemampuan tersebut juga berjalan beriringan dengan penguasaan keahlian berdasarkan bidang ilmu, yang dinilai tinggi oleh 63,6% responden. Sementara itu, pengetahuan umum juga memperoleh penilaian tinggi dari 54,6% responden.

Dengan kata lain, hasil tracer study ini memperlihatkan dua sisi kompetensi yang saling melengkapi: memiliki kedalaman dalam bidang keilmuan sekaligus kemampuan untuk melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas.

Adaptif dan Mampu Mengelola Diri

Selain kemampuan akademik dan berpikir, sejumlah kompetensi personal juga memperoleh penilaian tinggi dari para alumni. Sebanyak 72,7% responden menilai kemampuan adaptasi mereka berada pada kategori tinggi.

Kemampuan untuk beradaptasi menjadi relevan karena lingkungan kerja, tuntutan profesi, teknologi, hingga persoalan yang dihadapi masyarakat terus mengalami perubahan. Kompetensi lain yang juga memperoleh penilaian tinggi dari 63,6% responden adalah: manajemen waktu; negosiasi; bekerja secara mandiri; bekerja dalam tim; kepemimpinan; serta kemampuan pengembangan diri.

Menariknya, kemampuan bekerja mandiri dan bekerja dalam tim sama-sama memperoleh penilaian tinggi dari 63,6% responden. Dua kompetensi ini mungkin terlihat berbeda, tetapi keduanya justru saling melengkapi. Seorang doktor diharapkan mampu mengembangkan pemikiran dan pekerjaannya secara mandiri, sekaligus tetap dapat berkolaborasi dengan orang lain ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan berbagai perspektif dan keahlian.

Etika dan Integritas: Satu-satunya Kompetensi yang Mayoritas Dinilai “Sangat Tinggi”

Jika sebagian besar kompetensi memperoleh penilaian mayoritas pada kategori tinggi, terdapat satu temuan yang berbeda —sebanyak 54,6% responden menilai kompetensi etika dan integritas mereka berada pada kategori sangat tinggi.

Temuan ini menjadi salah satu sorotan penting dalam hasil tracer study. Dalam dunia profesional maupun akademik, kompetensi tidak hanya berbicara mengenai kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan atau menghasilkan keputusan. Cara seseorang menjalankan kompetensinya juga memiliki arti yang sama pentingnya. Tingginya penilaian pada aspek ini menunjukkan bahwa alumni tidak hanya menilai dirinya memiliki kapasitas keilmuan dan keterampilan, tetapi juga membawa nilai dalam menjalankan peran setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.

Komunikasi: Tinggi dan Sangat Tinggi Hampir Berimbang

Temuan menarik lainnya terlihat pada kemampuan berkomunikasi verbal dan nonverbal.

Penilaian responden terhadap kompetensi ini terbagi hampir seimbang: 45,5% responden menilai kemampuannya sangat tinggi dan 45,5% lainnya menilai tinggi.

Artinya, hampir seluruh responden memberikan penilaian positif terhadap kompetensi komunikasi yang mereka kuasai saat lulus. Hal ini menjadi penting karena kemampuan menyampaikan ide tidak dapat dipisahkan dari proses kerja seorang lulusan doktor.

Gagasan, hasil penelitian, maupun rekomendasi baru dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika mampu dikomunikasikan kepada berbagai pihak. Kompetensi komunikasi memungkinkan pengetahuan yang kompleks untuk didiskusikan, dipahami, dan dikembangkan bersama.

Berpikir Kritis hingga Pengambilan Keputusan

Kompetensi lain yang juga memperoleh penilaian mayoritas pada kategori tinggi meliputi kemampuan berpikir kritis (45,5%), penyelesaian masalah (54,6%), dan berpikir reflektif atau mengevaluasi hasil kerja sendiri (54,6%).

Ketiga aspek tersebut menggambarkan kemampuan untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mempertanyakan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencari solusi. Sementara itu, 54,6% responden juga menilai kemampuan mengambil keputusan mereka berada pada kategori tinggi. Kemampuan ini berkaitan erat dengan berbagai kompetensi lainnya. 

Kreativitas, Bahasa Inggris, dan Ketangguhan dalam Situasi Menantang

Hasil tracer study juga menunjukkan penilaian tinggi pada sejumlah kompetensi lain, yaitu: Inovasi dan kreativitas: 45,5%; Bekerja di bawah tekanan: 45,5%; Kemampuan Bahasa Inggris: 54,6%; dan Toleransi serta menghargai pendapat: 54,5%.

Meskipun memiliki persentase mayoritas yang berbeda-beda, seluruh kompetensi tersebut menjadi bagian dari kapasitas yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai situasi setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.

Kemampuan berinovasi membuka ruang bagi pengembangan gagasan baru. Kemampuan bekerja di bawah tekanan membantu individu tetap menjalankan peran dalam situasi yang menantang. Sementara itu, toleransi terhadap pandangan yang berbeda menjadi semakin penting ketika seseorang bekerja dan berdiskusi dengan individu yang memiliki latar belakang maupun perspektif beragam.

Gambaran Kompetensi yang Lebih dari Sekadar Penguasaan Ilmu

Secara keseluruhan, hasil Tracer Study TA 2025/2026 memberikan gambaran mengenai bagaimana para alumni Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM menilai kompetensi yang mereka miliki saat menyelesaikan studi doktoral.

Kemampuan berpikir lintas disiplin, adaptasi, manajemen diri, kolaborasi, kepemimpinan, komunikasi, hingga etika dan integritas muncul sebagai bagian dari gambaran kompetensi alumni.

Temuan ini juga mengingatkan bahwa pendidikan doktoral bukan semata-mata tentang menghasilkan seorang ahli dalam bidang tertentu. Namun juga berkaitan dengan pembentukan kemampuan untuk menghadapi persoalan yang kompleks, bekerja dengan beragam pihak, merefleksikan pekerjaan sendiri, serta terus mengembangkan diri.

Melalui tracer study ini, Program Studi Doktor Ilmu Psikologi UGM memperoleh masukan dari pengalaman para alumninya. Hasil tersebut dapat menjadi salah satu gambaran untuk terus memahami kompetensi lulusan sekaligus mendukung pengembangan kualitas pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia profesional.

Menjaga Kesehatan Mental Ibu Pascapersalinan: Ujian Tertutup Maya Khairani Bahas Strategi Pencegahan Depresi Pascapersalinan Berbasis Budaya Aceh

Rilis Rabu, 29 Juli 2026

Depresi pascapersalinan bukan hanya persoalan kesehatan mental seorang ibu, tetapi juga berkaitan erat dengan dukungan keluarga, budaya, serta sistem pelayanan kesehatan yang mengelilinginya. Isu tersebut menjadi fokus penelitian disertasi Maya Khairani, M.Psi., Psikolog, yang dipertahankan dalam Ujian Tertutup Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada pada Senin, 27 Juli 2026. Disertasi yang diangkat berjudul “Pengembangan Strategi Pencegahan Depresi Pascapersalinan pada Ibu di Aceh Berdasarkan Pengalaman Ibu, Perspektif Keluarga, dan Konsensus Tenaga Kesehatan.”

Ujian Tertutup dipimpin oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. selaku Ketua. Maya menyelesaikan penelitian ini di bawah bimbingan Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog sebagai Promotor dan Dra. Muhana Sofiati Utami, M.S., Ph.D., Psikolog sebagai Ko-promotor. Tim Penguji terdiri atas Prof. Dr. Sofia Retnowati, M.S., Psikolog, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, Josephine Maria Julianti Ratna, Ph.D. (Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya), dan Dr. Ners. Darmawati, S.Kep., M.Kep., Sp.Mat. (Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala).

Penelitian Maya mengangkat pentingnya memahami depresi pascapersalinan dari konteks sosial budaya masyarakat Aceh. Melalui pendekatan mixed methods, penelitian ini menemukan bahwa hampir 48% ibu dalam sampel penelitian menunjukkan gejala depresi pascapersalinan. Selain faktor psikologis, penelitian juga menunjukkan bahwa tradisi pascapersalinan dapat memiliki dua sisi: menjadi sumber dukungan sekaligus berpotensi menimbulkan tekanan apabila dijalankan secara kaku. Sebaliknya, dukungan keluarga dan nilai-nilai spiritual terbukti menjadi faktor protektif yang membantu menjaga kesejahteraan psikologis ibu.

Pada tahap berikutnya, Maya melibatkan para tenaga kesehatan melalui metode Delphi untuk menyusun strategi pencegahan yang sesuai dengan konteks Aceh. Hasilnya menunjukkan bahwa pencegahan depresi pascapersalinan perlu dilakukan secara terpadu melalui skrining dini di layanan kesehatan primer, keterlibatan aktif keluarga, serta pendekatan pelayanan yang sensitif terhadap budaya dan nilai-nilai lokal.

“Budaya tidak selalu menjadi faktor risiko. Dalam konteks Aceh, nilai-nilai agama dan dukungan keluarga justru menjadi kekuatan yang dapat melindungi kesehatan mental ibu. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai tersebut sambil menyesuaikan praktik tradisi yang berpotensi menambah beban psikologis ibu,” ungkap Maya Khairani saat memaparkan hasil penelitiannya.

Diskusi selama Ujian Tertutup juga menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan maternal yang tidak hanya berorientasi pada aspek medis, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis, dinamika keluarga, dan karakteristik budaya masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat upaya promotif dan preventif sehingga ibu memperoleh dukungan yang lebih komprehensif sejak masa kehamilan hingga setelah persalinan.

Melalui penelitian ini, Maya berharap hasil disertasinya dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan kebijakan kesehatan ibu di Indonesia, khususnya dalam penyusunan program pencegahan depresi pascapersalinan yang berbasis keluarga, layanan kesehatan primer, dan kearifan lokal. Penelitian ini juga memperkuat pentingnya kolaborasi antara psikologi, kesehatan, dan budaya dalam menciptakan layanan kesehatan mental maternal yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Universitas Gadjah Mada

Program Studi Doktor Ilmu Psikologi
Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Jl. Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
doktor.psikologi[at]ugm.ac.id
Doktor Ilmu Psikologi UGM
doktorpsikologiugm
+62 822 2720 5719
+62 (274) 550435
+62 (274) 550435

Profil

  • Sekilas Pandang
  • Pengelola
  • Promotor & Ko-Promotor
  • Unit Pendukung Penelitian

Akademik

  • Panduan Akademik
  • Kurikulum 2014
  • Kurikulum 2020
  • Simaster
  • Sistem Informasi Terintegrasi

Fasilitas

  • PERPUSTAKAAN
  • PENJAMINAN MUTU
  • AKSES JURNAL DAN EBOOK
  • LAYANAN TEKNOLOGI INFORMASI

Kemahasiswaan & Alumni

  • Prestasi Mahasiswa
  • Promovendus Club
  • Profil Mahasiswa

© 2021 Universitas Gadjah Mada